Hot News[hot](3)

Kepulauan Nias[three](3)

Nasional[dark](3)

Pariwisata[two]

Towi - Towi [slider]

Politik[combine]

Minggu, 19 Mei 2019

GPKN : Nias Selatan Butuh Generasi Kepemimpinan Baru

BeritaNias.Com, Jakarta - Beberapa pemuda yang tergabung dalam organisasi Gerakan Pemuda Kepulauan Nias (GPKN) melaksanakan pertemuan dengan politisi muda PDIP atas nama Gersom Wau di kawasan Jl Raden Saleh, Jakarta Pusat. Sabtu, 19 Mei 2019.

Dalam diskusi yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut, membahas tentang dinamika politik pasca pemilu pada bulan april khususnya di Nias Selatan.

Menurut Gersom Wau, pemilu yang berlangsung pada bulan maret khususnya di Nias Selatan berada pada zona merah sehingga menjadi konfik politik pada akhirnya.

" Saya rasa bahwa dinamika politik di Nias Selatan sangat disayangkan ya, khususnya di tataran penyelenggara, banyak aturan-aturan yang diselewengkan oleh penyelenggara. Ujar Gersom Wau. Sabtu, 19/05/19.

Lebih Lanjut, menurut Politisi PDIP ini bahwa kedepan kita harus lebih dewasa lagi dalam berpolitik sehingga melahirkan demokrasi yang lebih baik.

" Tahun depan kita akan menghadapi pilkada lagi, saya berharap ya supaya kita semua, baik masyarakat secara umum, harus lebih dewasa lagi berpolitik, sehingga tidak ada lagi kegaduhan yang muncul". Kata Gersom.
IMG_20190518_211002

" Saya juga harus sampaikan bahwa Nias Selatan kedepan butuh figur-figur baru khususnya di generasi anak muda untuk memimpin Nias Selatan dan menjadi jawaban dalam persoalan-persoalan Nias Selatan lebih baik lagi". Tambahnya

Tobias Duha selaku senior di GPKN turut prihatin perkembangan di Nisel. menurutnya, Pilkada tahun depan di hadapakan pada dua pilihan antara status quo atau kembali masa lalu.

"Melihat perkembangan Nisel, saat ini kita sedang diperhadapkan pada dua pilihan, yaitu status quo atau kembali ke masa lalu"

"Maka untuk menjawab hal itu, dibutuhkan calon pemimpin alternatif yang bisa membawa Nisel ke arah yang lebih baik, untuk mewujudkan hal ini di butuhkan peran  pemuda  khususnya GPKN ikut terlibat dalam suksesi kepemimpinan tahun depan sebagai garda terdepan dalam memunculkan pemimpin yang baru di Nias Selatan", Kata Tobias.

Di tempat yang sama, menurut Delinus Sarumaha selaku ketua GPKN menyampaikan bahwa Nias Selatan saat ini krisis kepemimpinan maka GPKN kedepan akan mendorong figur-figur baru untuk memipin Nias Selatan kedepan.

"Saat ini saya pastikan Nisel krisis kepemimpinan, Nisel butuh pemimpin baru untuk memimpin Nisel lebih baik lagi". tegasnya.

Jumat, 17 Mei 2019

Kisah Buick Mobil Bangsawan Rampasan

BeritaNias.Com - Mobil perjuangan ini termasuk yang terbaik di masanya. Beruntunglah Sudiro dan pemuda lain berhasil "mencurikan" mobil istimewa ini sehingga Presiden Soekarno bisa menjalankan tugas kenegaraan di awal sejarah Republik Indonesia.

Mobil andalan RI 1 pertama, bernomor Rep I, ini keluar setahun satu kali. Setiap tanggal 16 Agustus, jelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Mobil antik ini biasanya akan dibawa menuju Tugu Proklamasi, tak jauh dari Museum Gedung Joeang. Mobil inilah yang pertama kali menemani perjalanan Presiden Republik Indonesia.

Buick 8 merupakan produksi terbatas anak perusahan General Motor (GM) dari Amerika, sehingga sering disebut Limited-8. Buick 8 yang mirip mobil kepresidenan pertama ini dirilis pada 1939. Buick jenis ini, di masanya harganya berkisar 1.000 – 2.000 dolar. Angka ini tergolong tinggi, jika dilihat dari perkembangan inflasi.

Di zamannya, Buick 8 bukan mobil biasa. Buick jenis ini kadang menjadi kendaraan bangsawan Eropa. Raja Inggris dan keluarganya memakai mobil ini di tahun 1939. Hingga kini Buick masih membuat mobil mewah. Di zamannya, mobil ini setidaknya menjadi mobil dinas para pejabat di Hindia Belanda. Kemungkinan besar, mobil ini dibeli para pejabat Hindia Belanda, entah sebagai invetaris dinas atau secara pribadi. Sebelum akhirnya jadi mobil dinas di masa pendudukan Jepang.

Balik lagi ke laptop. Menjadi Buick mobil RI-1 Ketika itu, pemuda Sudiro kala itu berusia sekitar 34 tahun. Pada akhir 1945, dia adalah pemimpin Barisan Banteng di Jakarta. Sudiro memimpin para pemuda juga di tahun 1945. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Sudiro termasuk orang yang berpikir keras bagaimana Presiden Republik Indonesia bisa menjalankan tugas kenegaraan sehari-hari.

“Para pengikutku yang setia menganggap sudah seharusnya seorang presiden memiliki sebuah sedan mewah. Karena itu mereka mengusahakannya. Sudiro mengetahui ada sebuah Buick besar muat tujuh orang yang merupakan mobil paling bagus di Jakarta. Dengan gorden di jendela belakang,” aku Soekarno, seperti ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2015). Mobil itu inventaris Kepala Jawatan Kereta Api, yang ketika itu dijabat orang Jepang. Tapi Sudiro tidak mau menyerah. Dia tetap berangkat.

Tibalah Sudiro di sekitar Gedung Perhubungan depan stasiun Gambir. Sebuah Buick 8 sedang terparkir di garasi. Sehari-harinya, Buick 8 menjadi mobil dinas pejabat Jepang. Sudiro yang asal Yogyakarta itu mengenal baik sopir mobil itu. Sudiro lalu mendekati si supir.

“Merdeka!”, pekik Sudiro sebelum menjalaskan maksudnya. Sudiro tidak sendiri, dia bersama pemuda-pemuda lain. “Heh… saya minta kunci mobilmu!” lanjutnya.
“Kenapa? Kenapa?” tanya si supir asal Kebumen yang mendadak bingung itu.

“Saya bermaksud hendak mencurinya buat Presidenmu!” terang Sudiro. Sopir muda itu pun menyerahkan kunci mobil itu pada Sudiro. Oleh Sudiro, supir itu disarankan pulang kampung untuk menghindari majikan Jepangnya. Begitu adegan yang ditulis Roso Daras, dalam Total Bung Karno (2013).

Kunci mobil beralih ke tangan Sudiro dan kawan-kawan. Masalah belum selesai. Sudiro dan kawan-kawan ternyata tak bisa menyetir mobil. Itu hal biasa. Ketika itu, hanya segelintir pribumi Indonesia saja yang bisa menyetir mobil, apalagi yang memiliki mobil. Terpaksalah si sopir diajak untuk mengendarai mobil itu ke Presiden Soekarno.
“Hanya beberapa di antara kami yang bisa. Orang pribumi tidak memiliki kendaraan di zaman Belanda dan hanya para pejabat yang diizinkan di zaman Jepang. Syukurlah, dengan pertolongan kawan Sudiro yang lain, seorang sopir pembesar Jepang, akhirnya mobil itu sampai ke rumahnya yang baru, di halaman belakang rumahku,” aku Soekarno.

Belakangan mobil itu diberi plat Rep 1. Sebagai tanda kepunyaan orang nomor satu di Republik Indonesia. Bagi Soekarno, aksi Sudiro dan supir muda asal Kebumen itu sebagai bentuk kepahlawanan di awal sejarah Republik Indonesia yang baru saja berdiri. Sudiro belakangan jadi Walikota Jakarta. Dia juga kakek dari aktor terkenal Indonesia, Tora Sudiro.
Mobil perjuangan ini termasuk yang terbaik di masanya. Beruntunglah Sudiro dan pemuda lain berhasil "mencurikan" mobil istimewa ini sehingga Presiden Soekarno bisa menjalankan tugas kenegaraan di awal sejarah Republik Indonesia.

Mobil andalan RI 1 pertama, bernomor Rep I, ini keluar setahun satu kali. Setiap tanggal 16 Agustus, jelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Mobil antik ini biasanya akan dibawa menuju Tugu Proklamasi, tak jauh dari Museum Gedung Joeang. Mobil inilah yang pertama kali menemani perjalanan Presiden Republik Indonesia.

Buick 8 merupakan produksi terbatas anak perusahan General Motor (GM) dari Amerika, sehingga sering disebut Limited-8. Buick 8 yang mirip mobil kepresidenan pertama ini dirilis pada 1939. Buick jenis ini, di masanya harganya berkisar 1.000 – 2.000 dolar. Angka ini tergolong tinggi, jika dilihat dari perkembangan inflasi.

Di zamannya, Buick 8 bukan mobil biasa. Buick jenis ini kadang menjadi kendaraan bangsawan Eropa. Raja Inggris dan keluarganya memakai mobil ini di tahun 1939. Hingga kini Buick masih membuat mobil mewah. Di zamannya, mobil ini setidaknya menjadi mobil dinas para pejabat di Hindia Belanda. Kemungkinan besar, mobil ini dibeli para pejabat Hindia Belanda, entah sebagai invetaris dinas atau secara pribadi. Sebelum akhirnya jadi mobil dinas di masa pendudukan Jepang.

Balik lagi ke laptop. Menjadi Buick mobil RI-1 Ketika itu, pemuda Sudiro kala itu berusia sekitar 34 tahun. Pada akhir 1945, dia adalah pemimpin Barisan Banteng di Jakarta. Sudiro memimpin para pemuda juga di tahun 1945. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Sudiro termasuk orang yang berpikir keras bagaimana Presiden Republik Indonesia bisa menjalankan tugas kenegaraan sehari-hari.

“Para pengikutku yang setia menganggap sudah seharusnya seorang presiden memiliki sebuah sedan mewah. Karena itu mereka mengusahakannya. Sudiro mengetahui ada sebuah Buick besar muat tujuh orang yang merupakan mobil paling bagus di Jakarta. Dengan gorden di jendela belakang,” aku Soekarno, seperti ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2015). Mobil itu inventaris Kepala Jawatan Kereta Api, yang ketika itu dijabat orang Jepang. Tapi Sudiro tidak mau menyerah. Dia tetap berangkat.

Tibalah Sudiro di sekitar Gedung Perhubungan depan stasiun Gambir. Sebuah Buick 8 sedang terparkir di garasi. Sehari-harinya, Buick 8 menjadi mobil dinas pejabat Jepang. Sudiro yang asal Yogyakarta itu mengenal baik sopir mobil itu. Sudiro lalu mendekati si supir.

“Merdeka!”, pekik Sudiro sebelum menjalaskan maksudnya. Sudiro tidak sendiri, dia bersama pemuda-pemuda lain. “Heh… saya minta kunci mobilmu!” lanjutnya.
“Kenapa? Kenapa?” tanya si supir asal Kebumen yang mendadak bingung itu.

“Saya bermaksud hendak mencurinya buat Presidenmu!” terang Sudiro. Sopir muda itu pun menyerahkan kunci mobil itu pada Sudiro. Oleh Sudiro, supir itu disarankan pulang kampung untuk menghindari majikan Jepangnya. Begitu adegan yang ditulis Roso Daras, dalam Total Bung Karno (2013).

Kunci mobil beralih ke tangan Sudiro dan kawan-kawan. Masalah belum selesai. Sudiro dan kawan-kawan ternyata tak bisa menyetir mobil. Itu hal biasa. Ketika itu, hanya segelintir pribumi Indonesia saja yang bisa menyetir mobil, apalagi yang memiliki mobil. Terpaksalah si sopir diajak untuk mengendarai mobil itu ke Presiden Soekarno.
“Hanya beberapa di antara kami yang bisa. Orang pribumi tidak memiliki kendaraan di zaman Belanda dan hanya para pejabat yang diizinkan di zaman Jepang. Syukurlah, dengan pertolongan kawan Sudiro yang lain, seorang sopir pembesar Jepang, akhirnya mobil itu sampai ke rumahnya yang baru, di halaman belakang rumahku,” aku Soekarno.

Belakangan mobil itu diberi plat Rep 1. Sebagai tanda kepunyaan orang nomor satu di Republik Indonesia. Bagi Soekarno, aksi Sudiro dan supir muda asal Kebumen itu sebagai bentuk kepahlawanan di awal sejarah Republik Indonesia yang baru saja berdiri. Sudiro belakangan jadi Walikota Jakarta. Dia juga kakek dari aktor terkenal Indonesia, Tora Sudiro.

Sabtu, 16 Maret 2019

Menkumham Serahkan 3 Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal Asal Nias Kepada Wakil Gubernur Sumatera Utara

BeritaNias.Com, Jakarta - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H. Laoly menyerahkan Surat Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) - Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) yang berasal dari Pulau Nias kepada Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah serta Bupati Nias Selatan, Hilarius Duha dalam acara Soft Lauching Sail Indonesia 2019 di Golden Ballroom The Sultan Hotel & Residence, Kamis malam (14/3/2019).

Ada tiga Surat Pencatatan Inventarisasi KIK yang diberikan Menkumham yakni, Faluaya (Tari Perang), Tari Maena, Fahombo Batu (Lombat Batu).

Faluaya (Tari Perang) merupakan salah satu tarian daerah yang ada di Kabupaten Nias Selatan yang dilengkapi dengan peralatan seperti Baluse (tameng), Toho (tombak), Tologu (pedang), Kalabubu (sejenis kalung prajurit).

Faluaya dulunya dilakukan sebelum dan sesudah kembalinya prajurit dari medan perang. Tari perang ini tujuannya untuk memberikan semangat dan motivasi kepada para prajurit yang akan terjun ke medan perang melalui syair-syair yang dinyanyikan yang disebut Hoho, dan pekikan yang diteriakkan atau disebut Hugo.

Sedangkan Tari Maena merupakan salah satu tarian tradisional asal Nias. Jenis tarian rakyat ini dilakukan secara bersama-sama. Menurut sejarah, Tarian ini sudah ada sejak dahulukala dan telah diwariskan secara turu-temurun sampai saat ini. Tari Maena ditampilkan sebagai tarian hiburan untuk prosesi seremonial acara.

Fahombo Batu atau yang lebih dikenal dengan Lompat Batu adalah salah satu atraksi ketangkasan yang dilakukan oleh para pemuda desa di Nias Selatan.

Indonesia memiliki banyak KIK yang mencakup pengetahuan tradisional, sumber daya genetik, potensi indikasi geografis dan ekspresi budaya tradisional untuk dilakukan inventarisasi dan dimasukan dalam pusat data kekayaan intelektual komunal.

Surat Pencatatan Inventarisasi KIK yang diberikan Menkumham kali ini masuk dalam kategori ekspresi budaya tradisional. EBT ini merupakan karya intelektual dalam bidang seni, termasuk ekspresi sastra yang mengandung unsur karakteristik warisan tradisional yang di hasilkan, dikembangkan dan dipelihara oleh kustodian.

"Kekayaan dan keragaman pengetahuan tradisional dan budaya yang luar biasa ini belum terdokumentasikan dengan baik, tidak heran jika sekarang ini sedikit demi sedikit kekayaan itu ada yang mulai berpindah tangan ke pihak lain," ujar Yasonna H Laoly.

Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Presiden Joko Widodo, bahwa jika kebudayaan Indonesia menjadi fokus kegiatan dalam perekonomian, maka Indonesia akan memiliki banyak kesempatan untuk lebih maju.

Karenanya, Menkumham berharap kepada aparatur pemerintah dan masyarakat untuk menginventarisasi pengetahuan tradisonal dan berbagai EBT dan potensi indikasi geografis di daerahnya masing-masing, sehingga kekayaan nasional bisa terlindungi secara lebih efektif berdasarkan data tersebut.

"Inventarisasi KIK ini bertujuan untuk memperkuat kedaulatan KI Komunal Indonesia, memperkuat bukti kepemilikan atas KI Komunal Indonesia,  bahan untuk mempromosikan budaya Indonesia dan kemudahan akses nilai-nilai kesejarahan, kebudayaan, pengetahuan tradisional dan sumber daya genetik Indonesia," tutur Yasonna H. Laoly.

Sail Indonesia yang merupakan ajang tahunan wisata bahari yang telah diselenggarakan sejak 2009 oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menunjuk Nias, Sumatera Utara, sebagai tuan rumah Sail Indonesia untuk tahun 2019.

Penunjukan Nias sebagai kandidat tuan rumah Sail Indonesia ini pun dijadikan momen untuk membangun perokonomian daerah. Salah satu hal yang dapat menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara, yaitu dengan menyuguhkan keunikan ekspresi budaya tradisional yang dijaga secara turun temurun.

Oleh karenanya, inventarisasi terhadap EBT ini perlu dilakukan agar terlindungi dari pengakuan negara lain.

Jumat, 15 Maret 2019

Sail Nias 2019 Diharapkan Bermanfaat Bagi Masyarakat

BeritaNias.Com, Jakarta - Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara sedang dipersiapkan menjadi tuan rumah Sail Indonesia tahun 2019. Tahun ini Sail Nias, yang merupakan rangkaian dari ajang tahunan Sail Indonesia, diharapkan benar-benar bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat dan jangan hanya menjadi kegiatan seremoni belaka.

Daerah terakhir yang menjadi tuan rumah penyelenggara Sail Indonesia ini adalah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada September 2018, yaitu Sail Moyo Tambora.

Ketua Harian Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia, Moh Abdi Suhufan, menuturkan pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap konsep sail yang selama ini dilakukan.


"Nampaknya kurang terkoordinasi dengan baik, minim partisipasi dan dukungan swasta, terkesan hanya hanya menjadi kegiatan seremoni tanpa konsep yang jelas," kata Abdi Suhufan

Abdi menjelaskan dulu Dewan Kelautan Indonesia (Dekin) yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan sail, tetapi setelah Dekin dibubarkan dinilai menjadi tidak jelas koordinasinya.

Untuk itu, ia menambahkan, semestinya Kemenko Kemaritiman mengambil peran untuk melakukan evaluasi dan reformulasi konsep sail sehingga tidak hanya terkesan menghamburkan uang negara tanpa manfaat bagi ekonomi lokal.

Abdi juga menginginkan persiapan Sail Nias mesti dievaluasi sudah sampai sejauh mana, pihak mana yang bertanggung jawab, serta perlu ada indikator kesuksesan penyelenggaraan di berbagai aspek.

Kepulauan Nias terdiri atas lima wilayah administrasi, yaitu Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias Induk, Nias Utara, Nias Barat, dan Nias Selatan. Kelimanya memiliki potensi wisata yang sama baiknya, terutama pemandangan pantai dan bawah laut.

Surganya wisata bahari di Kepulauan Nias terletak di Kepulauan Hinako, Nias Barat. Kegiatan terkait wisata bahari mulai dari surfing, snorkeling, menyelam, memancing, berjemur di pantai adalah hal yang bisa dilakukan di sini.

Sementara itu, di Nias Utara terdapat 'pink beach' Gawu Soyo yang tak kalah indah dengan pantai pink di pulau Komodo. Nias Selatan memiliki acara budaya yang unik seperti Ya'ahowu Nias Festival, yang akan menjadi daya tarik utama pada Sail Nias 2019 nanti.

Selain ajang tersebut, Nias juga memiliki Nias Pro yang merupakan kejuaraan surfing dunia. Nias Pro 2018 digelar di pantai Sorake pada Agustus lalu. Ajang tersebut dihadiri para surfer manca negara ini bertujuan memperkuat posisi Nias sebagai destinasi wisata surfing dan mempromosikan keindahan bahari kepulauan Nias.

Kamis, 14 Maret 2019

Launching Sail Nias 2019 “Nias Menuju Gerbang Destinasi Wisata Bahari Dunia”

BeritaNias.Com, Jakarta - Launching Sail Nias 2019 “Nias Menuju Gerbang Destinasi Wisata Bahari Dunia” di Hotel Sultan, Kamis (14/03). Dihadiri Wagub Sumut Musa Rajekshah, Menko PMK Puan Maharani, Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, serta Duta besar dan konsulat negara sahabat.

"Saya harap acara peluncuran ini bukanlah acara seremonial, tentu saja hal itu akan bermanfaat bagi ekonomi, budaya, dan sektor pariwisata di Kepulauan Nias," kata Puan di Golden Ballroom Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Tema peluncuran acara tersebut adalah "Sail Nias 2019 Menuju Gerbang Destinasi Wisata Dunia". Puan menuturkan, acara peluncuran itu ditujukan mempercepat pembangunan daerah kepulauan dan daerah terpencil. Program Sail Nias tersebut menggunakan anggaran lintas kementerian dan daerah.

Selanjutnya, Puan berharap, Pariwisata di Nias akan berkembang dengan baik, sehingga kecantikan alam Nias mampu menarik investor.

Puan juga menjelaskan, Nias dipilih bukan tanpa sebab. Nias memiliki keunikan yang khas, salah satu contohnya adalah ombak yang berkelas dunia. Selain itu, Nias juga memiliki kebudayaan yang indah yakni Lompat Batu.

Di saat yang sama Puan mendorong putra daerah Nias untuk menyiapkan Sail Nias 2019 dengan baik. Mulai dari kebutuhan fasilitas, keramahtamahan masyarakat, kuliner, serta akomodasi.

"Tadi kata Pak Yasonna belum ada akomodasi yang representatif yang mampu membuat wisatawan betah tinggal di Nias. Hal itu menjadi tantangan kita semua," kata Puan.

Di sela acara tersebut dilakukan pula telekonferensi dengan masyarakat Nias, termasuk pula dengan pejabat kantor Gubernur Sumatra Utara. Puan juga menyampaikan, kemajuan pariwisata di Nias nantinya akan dirasakan oleh Pemerintah Daerah Nias, bukan pemerintah pusat.

Selain Puan Maharani, Launching Sail Nias 2019 dihadiri pula oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly, KSAL Laksmana Siwi Sukma Adji, serta duta besar negara sahabat.

Senin, 11 Maret 2019

Begini Cara Meiman Jaya Hulu Bunuh Pacarnya yang Sedang Hamil

BeritaNias.Com, Medan - Pelaku pembunuhan wanita hamil di Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru, adalah pacar korban bernama Meiman Jaya Hulu (23), warga Desa Bohalu, Kecamatan Boronadu, Kabupaten Nias Selatan. Ia ditangkap petugas Polsek Medan Baru, Senin (11/3/2019) sekitar pukul 12.00 WIB.

Kapolsek Medan Baru, Kompol Martuasah Tobing, didampingi Kanit Reskrim, Iptu Philip Purba; dan Panit I Ipda Imanuel Ginting kepada wartawan, mengatakan, korban yang dibunuh dengan cara diberikan obat aborsi kepada Yariba Laia (21), warga Medan yang juga sebagai kekasih pelaku tidak bertanggung jawab untuk menikahi korban tersebut.

Selanjutnya, pelaku yang sudah hilang akal itu membeli sejumlah obat melalui online dengan harga Rp 1, 1 juta untuk diminumkan kepada korban. Namun naas, kepada korban yang langsung muntah-muntah dan pendarahan hebat di dalam kamarnya itu.

Selanjutnya pemilik rumah bernama Saharuddin Laia (23) yang melihat saudaranya sudah bersimbah darah langsung membawa korban ke rumah sakit terdekat. Dalam perjalanan, korban sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Keluarga korban pun membuat laporan ke Polsek Medan Baru untuk menangkap pelaku yang diduga telah meracuni korban dengan diberikan obat aborsi tersebut.

Tidak berapa lama dari kejadian itu, petugas yang sudah mengetahui keberadaan pelaku tersebut tidak berkutik ditangkap.

Tidak itu saja, dari lokasi juga petugas berhasil menyita barang bukti 3 papan obat merek Sopros,1 obat merek Ampicilin dan satu obat merek Antalgin. "Pelaku seorang mahasiswa itu melanggar Pasal 348 KHUPidana dengan ancaman hukuman 7 Tahun Penjara," jelasnya.

Sementara itu, Meiman mengaku, melakukan pembunuhan dengan cara oborsi itu untuk menghilangkan aib yang telah dilakukannya itu bersama kekasihnya yang telah tewas di Jalan Hasanuddin Medan. "Saya beli obatnya melalui online untuk diminum oleh pacar saya. Namun terjadi pendarahan hebat yang membuat korban tewas bersama anak yang ada di dalam kandungannya," terangnya.

Begitu pun dirinya sangat menyesal apa yang telah dilakukannya itu. "Saya menyesal dan meminta maaf kepada keluarga korban yang merasa sakit hati melihat perbuatan saya ini. Saya ikhlas menjalankan hukuman di penjara," tandasnya

Sabtu, 09 Maret 2019

Sail Nias 2019 Ajang Promosi Pariwisata di Kepulauan Nias ke Dunia Internasional

BeritaNias.Com, Medan - Wakil Gubernur Sumatera Utara Musa Rajekshah mengharapkan seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota se-Kepulauan Nias mendukung pelaksanaan kegiatan Sail Nias 2019. Sehingga kegiatan bertaraf internasional ini tidak hanya sukses dan lancar dalam pelaksanaannya, tetapi juga mampu memperkenalkan kepulauan Nias di mata dunia, Sabtu (9/3/2019).

Hal itu disampaikan Musa Rajekshah yang didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Sumut, Sabrina pada rapat persiapan Sail Nias 2019, di Ruang Rapat Kaharuddin Nasution, Lantai delapan, Kantor Gubernur, Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Medan.

“Sail Nias ini membuktikan kalau Sumut memiliki daya tarik yang tak kalah indah dari daerah lain, seperti Bali. Maka kita berharap event bertaraf international ini mampu menarik wisatawan domestik juga asing untuk berkunjung menikmati suasana wisata kepulauan Nias,” ujar Musa Rajekshah.

Karena itu, kata Musa Rajekshah, yang pertama harus dilakukan adalah perbaikan infrastruktur, mulai dari jalan hingga pembangunan fasilitas umum lainnya harus dipercepat, agar tidak ada kendala pada saat event berlangsung.

“Infrastruktur itu sangat penting untuk dilakukan percepatan, hingga saat dimulainya event tidak terjadi kendala yang dapat menganggu acara yang bertaraf international tersebut,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan, agar kegiatan ini nantinya tidak hanya berhenti pada tahun ini, melainkan menjadi agenda tahunnya yang harus diselenggarakan setiap tahun di Kepulauan Nias.

“ Saya juga berharap kegiatan ini menjadi agenda tahunan di kepulauan Nias , dan harus lebih menarik setiap tahun, agar wisatawan dalam dan luar negeri tertarik untuk melihat dan berkunjung setiap tahunnya,” katanya.

Sementara itu, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumut  Hidayati menjelaskan, rencananya event Sail Nias akan dilaksanakan di Nias Selatan pada September 2019 dan melibatkan seluruh kabupaten/kota di Kepulauan Nias.

Serta melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Sumut dan kabupaten/kota di Sumut, untuk ikut memeriahkan event tersebut. Akan ada banyak acara di Sail Nias. Mulai dari kebudayaan, olah raga, kuliner, serta aksi lompat batu yang merupakan andalan Kepulauan Nias.

"Puncaknya ada aksi seremonial, gelar budaya, pameran, bakti sosial dan pelayanan kesehatan, atraksi kelautan dan peresmian beberapa pelaksanaan pembangunan," jelasnya.
Tujuan pelaksanaan Sail Nias tersebut, kata Hidayati adalah sebagai salah satu upaya percepatan pembangunan daerah kepulauan dan daerah terpencil, khususnya di Kepulauan Nias.

Kemudian menggalang keterpaduan, sinergi program dan anggaran lintas Kementerian/Lembaga dan Daerah dalam rangka pelaksanaan pembangunan serta mewujudkan kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan.

"Tujuan lainnya yaitu mempromosikan lokasi kegiatan sebagai tujuan wisata nasional dan internasional. Kita ingin mengukuhkan kembali kejayaan bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari yang hidup di Negara Kepulauan, dan mengembangkan rute pelayaran kapal-kapal ke perairan Indonesia," ungkapnya.

Turut hadir pada rapat tersebut sejumlah OPD Pemprov Sumut, serta para Bupati dan Walikota se-Kepulauan Nias.


Hot in week

Recent

Comments

LOWONGAN PEKERJAAN

Dibutuhkan Wartawan BeritaNias.Com
Silahkan Email Lamaran Anda
CV Anda ke redaksi.

Email ke: kabarnias@gmail.com
index