Yasniar “Bonne” Gea, Juara Selancar Asia yang Belum Terkalahkan




Bonne Gea (kanan) juara di Singapura, 2011 | Foto: mylifeonboard.net

NBC — Selancar atau surfing? Kata ini tidak asing bagi orang-orang yang ada di Pulau Nias, terutama Nias Selatan. Ombak besar di Lagundri dan Sorake di Nias Selatan adalah surga bagi pencinta olahraga di atas papan ini. Berkat ombak di Nias Selatan ini, sekarang, Indonesia bahkan Asia memiliki ratu selancar, yakni Yasniar Gea yang akrab dipanggil Bonne.

Mencari namanya di mesin pencari di internet dengan kata kunci ‘Bonne’, yang muncul adalah berita-berita disertai foto dari berbagai majalah dan situs berbahasa Inggris yang memberikan perhatian pada olahraga yang mengandalkan ombak laut ini. Ya, Bonne adalah juara Asian Surfing Championships tahun 2012 dan hingga kini belum terkalahkan.

Masyarakat Nias bisa jadi kurang mengenal siapa Yasniar Gea. Namun, sejumlah prestasi nasional dan Asia. Tahun 2011 di Singapura, Bonne menjadi yang terbaik di bagian putri mengalahkan Diah Rayahu Dewi (Indonesia), Jessie Hong (Taiwan), dan Michaela Partin (USA). Pada tahun 2012, Bonne kembali menjadi yang terbaik di kontes yang dilaksanakan di Taiwan seperti dikutip http://www.mylifeonboard.net.

Suatu hari pada pertengahan Mei 2013, ada kesempatan penulis bertemu dan berbincang-bincang dengan gadis asal Langundri, Nias Selatan, yang baru saja merayakan hari jadinya yang ke-31 pada 16 Juni lalu ini. “Saya pengin berlibur saja ke Nias dan ingin menjajal ombak di Afulu (Nias Utara) bersama teman,” ujar Bonne yang kini menetap di Bali itu.

Saat itu Bonne hendak pulang kampung bersama adiknya, yang juga pelatih selancar di Bali, Todi; temannya, Alliyah, yang berasal dari Kalimantan, datang ke Nias dengan tujuan langsung ke Telukdalam, Nias Selatan.

Jalan Hidup

Memilih berkarier sebagai peselancar, Bonne mengaku sudah menemukan jalan hidupnya. Ia sangat bahagia dengan kondisi dirinya sekarang. Ia bersyukur, Billabong, sebuah perusahaan multinasional yang memproduksi peralatan selancar, terus bersedia menjadi sponsornya. “Jadi, ke mana-mana kan gampang. Sepanjang Billabong menjadi sponsor saya,” kata juara ASC  lima tahun berturut-turut tanpa terkalahkan ini.

Bonne mengaku predikat juara Asia ia harus pertahankan terus. “Nanti, akhir Mei ini juga dalam rangka mempertahankan gelar itu. Sistemnya kan poin, setiap tahun itu ada penambahan poin. Jadi, samalah dengan olahraga lain,” kata Bonne yang mulai berselancar sejak pindah di Bali.

Bonne pindah ke Bali mengikuti sang kakak yang sudah terlebih dahulu berada di Bali. Namun, bekal pengetahuan menjadi peselancar sudah dimulai sejak kecil. “Rumah kami di Lagundri, mama kan orang Lagundri, jadi hobi main selancar menjadi tumbuh. Sejak aku pindah di Bali, ya mulai menekuninya. Kalau di Nias kan siapa yang lirik. Kalau di Bali kan mereka perlu yang kayak brand-brand itu,” kata anak keempat pasangan Zaimart Gea dan Kamsiah Ge’e ini.

Keberadaannya di Bali, selain mengikuti berbagai lomba atau kontes selancar, baik lokal maupun tingkat Asia, Bonne juga menjadi pelatih selancar bagi pemula. “Kalau ada yang mau, ya saya latih mereka juga untuk berselancar,” ujarnya.
Bisa jadi, Bonne akan terus menetap di Bali. Bagi dia, kehidupan di Bali sudah pas dan cocok bagi dia untuk saat ini. Menetap di Pulau Dewata itu, bagi Bonne, dia lakoni sepanjang masih ada pekerjaan yang bisa ia lakukan. Namun, ia juga tidak menampik akan pulang menetap di Nias bila itu memungkinkan. “Saya menetap di Bali semua tergantung, apakah pekerjaannya lancar atau tidak. Kalau masih kayak gini ya oke. Tapi,  kalau di Nias berkembang nanti ya kenapa tidak,” ujarnya.
Kondisi “Surfing” di Nias
Kehadiran putri Nias, Bonne, di kancah Asia dan nasional, Yasniar “Bonne” Gea, menjadi oase di tengah-tengah kelesuan wisata ombak di Nias Selatan. Seperti diketahui, pada tahun 1980-an hingga 1990-an pantai Sorake dan Lagundri pernah menjadi primadona bagi peselancar dunia. Saat itu, Telukdalam menjadi salah satu tempat tujuan wisata yang ramai dikunjungi wisatawan luar negeri dan domestik.

Kini pemandangan itu sudah jauh berkurang. Akan tetapi, dengan lancarnya penerbangan Medan-Nias saat ini, berangsur-angsur setiap penerbangan terlihat ada satu-dua turis asing yang berlibur ke Nias. Mereka sebagian besar berlibur untuk  menjajal ombak besar di Nias Selatan. Hal itu bisa dilihat dari bagasi bawaan mereka yang disertai dengan papan selancar.

Bagi Bonne dan bagi sejumlah peselancar internasional, ombak di Nias masih yang terbaik. Namun, mengapa Nias kalah terkenal dibanding Bali?

Bonne mengurai bahwa kondisi dan letak geografis Nias yang masih terpencil menjadi faktor utama Nias kalah dari Bali. “Kalau menurut aku, mungkin kalau Nias dibuat seperti Bali bisalah ya. Hanya karena kita terpencil di sana sehingga sponsor kurang tertarik. Walaupun hebat dari tempat lain ya, ombaknya lebih bagus, tetapi untuk ke Nias sekarang agak susah. Kalau Bali kan bisa penerbangan internasional. Wisatawan langsung bisa tiba. Kalau Nias kan flight-nya banyak. Ini agak susah,” kata Bonne saat berbincang di ruang tunggu Bandara Internasional Polonia, Medan.

Agar wisata surfing Nias bisa bangkit lagi dan bisa memberikan tambahan kesejahteraan bagi rakyat di Pulau Nias, harapan Bonne, bangulah infrastruktur yang dibutuhkan, perlu juga dipikirkan agar ongkosnya bisa lebih murah.

“Ya, tergantung dari pemerintahnya sekarang, bagaimana membangun infrastrukturnya. Misalnya saja, bawa papan selancar kami harus bayar Rp 200.000 untuk satu papan. Coba bayangkan. Aku bawa papan tiga, jadinya dari Medan ke Nias itu bayar Rp 600.000 hanya untuk papan saja. Dari Bali-medan hanya gratis satu untuk satu orang. Ya saya kan kesal juga kan. Kalau dulu kan oke, per kilogram kan, agak murah, tetapi kalau kalau hitungannya per satu papan ya mahalah,” kata Bonne sedikit kesal.

Keputusan Bonne untuk meniti karier di Bali adalah sebuah pencapaian besar. Bonne tentu tahu betul bahwa bila tetap berada di Nias, ia tak akan bisa berkembang seperti sekarang ini. Bonne tidak menampik bahwa ombak di Nias begitu besar dan sangat berpotensi. Namun, sekali lagi, kata Bonne, ketersediaan infrastruktur, keseriusan pemerintah daerah setempat, sangat menentukan dan menjadi faktor utama.

Mahalnya ongkos ke Nias menjadi sebuah alasan mengapa pariwisata ombak dan lainnya yang dimiliki Pulau Nias tidak berkembang. Kehadiran bandar udara internasional yang bisa didarati pesawat berbadan besar langsung dari negara lain haruslah dipikirkan.

Seperti diketahui, pembangunan bandar udara di Silambo yang diusung Pemerintah Kabupaten Nias Selatan hingga kini tak ada kabar beritanya. Konon, masalah pembebasan lahan membuat rencana pembangunan bandara Silambo tersendat. Padahal, pemerintah setempat pernah mencanangkan bahwa Oktober 2012 Bandara Silambo itu sudah bisa dimanfaatkan.

“Bayangkan saja misalnya ada pesawat dari Bali langsung mendarat ke Pulau Nias. Atau pesawat dari Singapura atau Malaysia bisa langsung mendarat ke Nias, turis-turis itu pasti akan bisa menjadikan Nias sebagai tempat tujuan berikutnya setelah Bali,” kata Bonne.

Kemudian, menurut Bonne, bila ingin melihat Nias bisa bangkit lagi, diperlukan keseriusan pemerintah daerah. “Nah, sekarang bagaimana pemerintah daerahnya? Apakah mereka benar-benar memberikan perhatian enggak terhadap potensi alam yang besar ini,” kata penyuka ikan diasap yang dimasak bersama sayur itu.

Selain perhatian serius pemerintah dan ketersediaan infrastruktur pendukung, pengorganisasian kontes-kontes yang sifatnya nasional dan internasional juga sangat menentukan bila ada keinginan untuk mengembangkan sektor wisata ombak ini.

Kontes-kontes itu perlu diorganisikan sedemikian rupa dan reguler dilakukan. Dengan begitu, kata Bonne, Nias akan terus dilirik dunia. Para sponsor mau ada benefit yang ia dapat. Makanya perlu dikelola dengan baik. Mengajak media lokal, nasional, dan internasional ke Nias juga perlu dilakukan sehingga ada berita-berita tentang Nias, terutama soal ombaknya, sehingga bisa menjadi referensi bagi siapa pun. Sponsor senang juga kalau ada media yang ikut mengangkat nama dan merek usaha mereka.

Peristiwa miris yang pernah terjadi saat sebuah kontes yang hendak dilakukan di Nias Selatan tiba-tiba ditunda hanya karena pengelolaan yang kurang baik. Penundaan itu tidak baik buat masa depan selancar di Nias.

“Menurut kabar panitia yang dari Bali, penundaan dilakukan oleh pemerintah daerah Nias Selatan. Sementara dari pemerintah daerah Nias Selatan mengatakan, yang dari Bali yang menunda,” ujar Bonne.

Di akhir perbincangan dengan penulis, Bonne menguar pesan dan harapan. “Kepada para orangtua di Nias diimbau agar memberikan kukungan kepada anak perempuan Nias. Biarkanlah mereka memilih sendiri mereka mau seperti apa. Bila ada anak Anda yang ingin menjadi peselancar, maka janganlah larang mereka. Mana tahu di situ ada rezekinya. Sama dengan olahraga lain,” kata Bonne.

Yasniar tidak ingin predikat perempuan peselancar Nias berakhir di dia. Ia ingin ada perempuan Nias yang lain yang jago berselancar. “Itu kan daerah kita (Nias) masalahnya anak cewek itu hanya boleh kerja di rumah atau bantu-bantu orangtuanya, terus sekolah. Hanya itu saja. Saya sih berharap ada yang mau menekuni olahraga selancar,” katanya.
Sukses terus Bonne. Happy belated birhtday! [APOLONIUS LASE]

BIODATA SINGKAT
  • Nama lengkap: Yasniar Gea
  • Nama panggilan: Bonne
  • Tempat, tanggal lahir: Lagundri, Nias Selatan, 16 Juni 1982
  • Ayah: Zaimart Gea (asal Lahewa)
  • Ibu: Kamsia Ge’e (asal Lagundri)
  • Alamat: Jalan Sekuta No 12, Sanur, Bali.
  • Hobi: Jalan-jalan dan surfing.  
Sumber: NiasBangkit

Related

Pariwisata 4850038617442627175

Hot in week

Recent

Comments

item